Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Mei 2018 1 komentar

Are Keraton Jogja same as Keraton Kartasura?

Have you know what is the different betwen jogja palace and kartasura palace? Nor what is the same betwen both?
Let me share you that.
The conceptor of the palace or we call keraton is the mangkubumi prince or also known as the first of sultan hamengkubuwana.
But he build the first palace at kartasura and then he move to jogja and build jogja palace.
After that, some palace build to at jogja, like at pakualaman, kotegede and pleret.
Even they both concepted by Sultan HB I, they build by different architech. So that why both palace have different colour.
Kartasura palace, using
The light blue color is a symbol of space or sky, is a symbol of a wide-sighted person and also an apologist.
And jogja palace using green colour that have philosophy teaches a person to live a natural life because with a natural life we ​​will feel the welfare and Have you know what is the different betwen jogja palace and kartasura palace? Nor what is the same betwen both?
Let me share you that.
The conceptor of the palace or we call kraton is the mangkubumi prince or also known as the first of sultan hamengkubuwana.
But he build the first palace at kartasura and then he move to jogja and build jogja palace.
After that, some palace build to at jogja, like at pakualaman, kotegede and pleret.
Even they both concepted by Sultan HB I, they build by different architech. So that why both have different color and ukiran
Kartasura palace, using
The light blue color is a symbol of space or sky, is a symbol of a wide-sighted person and also an apologist.
And jogja palace using green colour that have philosophy teaches a person to live a natural life because with a natural life we ​​will feel the welfare and serenity. Not only that, with a life that utilizes from nature we can achieve wealth and glory.
Have you visit both palace?
Please visit and learn the history both of them :)
#CMIIW
Kamis, 17 Mei 2018 0 komentar

Kursus bahasa Inggris gratis? yakin gak pengen ikutan?

Pernah denger kalau ada pelatihan bahasa inggris yang gratis dan penuh dengan fasilitas?
Mungkin beberapa lembaga memang menyediakan beasiswa untuk yang ingin mengambil kursus bahasa inggris di lembaga tersebut.

Tapi berbeda dengan lembaga yang satu ini. BLKPP atau Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas DIY. Setiap tahunnya pasti menyelenggarakan pelatihan bahasa Inggris untuk warga khusus DIY atau siapapun yang berdomisili di DIY. Tidak hanya menyelenggarakan pelatihan bahasa Inggris, tetapi juga ada pelatihan menjahit, perhotelan, salon kecantikan, tata rias, las, komputer, audio video, dan bordir.

Jujur, sudah kali ketiga aku mengikuti seleksi untuk mengikuti pelatihan di BLKPP. Kali pertama, aku memang ingin mengikuti pelatihan bahasa Inggris, namun sayangnya aku tidak mengetahui pengumuman penting, yakni jadwal interview sehingga aku tak mengikuti interview dan gagal untuk mengikuti pelatihan bahasa Inggris.

Kali kedua, aku tidak merasa bahasa Inggris penting karena kemudian aku memiliki kecenderungan hobi yang harapannya akan menjadi investasiku di hari tua nanti. Menjahit. Aku benar-benar ingin lolos seleksi dan mengikuti pelatihan menjahit. Sayangnya bukan rejekiku di sana.

Kekecewaanku di ke dua seleksi yang ku ikuti membuatku agak pesimis untuk mencoba peruntunganku lagi. Jujur aku masih berharap untuk mengikuti pelatihan yang diadakan BLKPP. Namun seorang teman yang mengetahui cerita kegagalan seleksiku sebelumnya, memberikan informasi pelatihan bahasa Inggris yang entah mengapa tanpa babibu aku langsung menyerahkan berkas-berkas untuk mendaftar seleksi pelatihan bahasa Inggris. Dan sesaaat setelah mendaftar seleksi pelatihan  bahasa Inggris, aku membaca pengumuman yang lengkap dan melihat bahwa pada angkatan yang sama dengan pelatihan bahasa Inggris yang aku daftar juga menyelenggarakan pelatihan menjahit. Hati ini terus merasa menyesal dan ingin sekali merubah apa yang aku daftar.

Berbeda dengan seleksi yang sebelum-sebelumnya, aku tidak terlalu mempersiapkan diri denga baik. Namun kali ini, aku cukup mempersiapkan diri dengan belajar bahasa Inggris dengan seorang teman yang juga mendaftar di bidang yang sama. Pada tes tertulis, aku merasa menyesal bahwa aku tidak belajar dengan maksimal. Padahal benar, soal yang keluar tentang apa yang dipelajari sebelumnya seperti penggunaan past tense, present tense, perfect tense yang dituangkan dalam soal pilihan ganda. Dan penerapan penggunaan ketiganya dalam bentuk essay dengan 5 pertanyaan. Dan salah satu pertanyaan essay adalah tentang bagaimana pentingnya wisata di jogja? Setelah melakukan tes tertulis, langsung diselenggarakan tes interview dan entah mengapa aku diinterview cepat sekali. Lima menitpun tak sampai. Dari situ kemudian aku merasa pesimis lagi dan tidak terlalu berharap untuk lolos.

Di hari pengumuman bahkan  aku tidak melihatnya, aku meminta tolong seorang teman untuk melihat hasil seleksinya. Senangnya aku lolos. Yang menjadi titik bahagiaku saat itu adalah karena sudah sekian lama tidak lolos dari suatu seleksi dan saat itu aku lolos. Bukan karena akhirnya aku bisa mengikuti pelatihan bahasa Inggris.
 karena berada di kelas ini, di pelatihan bahasa Inggris angkatan pertama di tahun ini yang diselenggarakan atas APBD DIY. Aku bersyukur karena aku memiliki Instruktur yang sangat memotivasi. Aku belajar tentang bisnis, bagaimana menjawab pertanyaan interview, bagaimana menjadi guide, bagaimana sebuah tour and travel itu melayani tamu dan aku semakin mencintai dan bangga pada sejarah, dan juga latar belakang dari sebuah wisata yang ada di DIY. Aku juga bersyukur aku menemukan teman-teman kelas yang memiliki latar belakang yang beragam sehingga aku bisa belajar banyak dari beragam sikap mereka. Mengambil yang baik dan mengabaikan yang buruk, itu prinsipku.

Jadi kamu yakin nggak tertarik belajar bahasa Inggris gratis di Jogja?

Rabu, 14 November 2012 0 komentar

Heterogenitas Fasilitasi Harus Tepat Guna

Nama           : Hanifah Hikmawati
NIM               :11230037
Prodi/fak.    :PMI/Dakwah

Tema: teknik dalam memfasilitasi masyarakat

Heterogenitas Fasilitasi Harus Tepat Guna


”dari sabang sampai merauke…
dari miangas sampai pulau rote...”
Masih ingat jingle tersebut? Dari jingle tersebut, telah tergambar betapa luasnya Indonesia dengan berbagai macam isinya yang saling melengkapi.
Begitu luasnya Indonesia, dengan batas air yang sangat luas membuat kita merasa terlalu lama dan membuang waktu hanya untuk melakukan perjalanan, membuang banyak uang untuk akses sehingga permasalahan tidak dapat lansung teratasi dan juga karena masih banyak kelompok yang menghuni di pelosok pelosok yang juga susah di jangkau sehingga permasalahan membuat kita kewalahan dalam menghadapi permasalahan yang melanda berbagai penjuru Indonesia. Namun jika kita kita adalah seorang petualang, inilah yang baru disebut dengan tantangan. Sehingga hidup penuh dengan gejolak, kadang naik, dan kadang juga turun, tidak datar.
Ketika masyarakat  menghadapi masalah, maka disitu akan muncul milimal seorang ataupun beberapa  orang yang bergerak dan  ingin keluar dari masalah tersebut. . tetapi jika orang tersebut tidak memiliki kemampuan, dikhawatirkan akan  mengakibatkan kesalahan yang fatal. Untuk itulah diperlukan dasar dalam memfasilitasi ataupun  pelatihan dalam memfasilitasi agar masyarakat tersebut dapat melakukan fasilitasi sendiri. Tapi terkadang seorang yang bermasalah memerlukan mediator  ataupun pendamping baik disana untuk mendengarkan keluhan, bertukar pikiran, mendapatkan kritik saran dan lainnya, sehingga diperluan fasilitator dari pihak luar. Tak boleh salah orang dalam memilih fasilitator karena seperti yang kita tahu bahwasannya manusia itu heteroen begitu pula jika dalam lingkup yang lebih besar lagi. Selain seorang memerlukan basic dalam melakukan fasilitasi, ia juga harus mampu mempraktekkannya, sehingga ia memerlukan kesempatan untuk mempraktekkannya.

Seorang yang kerap praktek, maka ia akan terolah mentalnya sehingga ia akan mampu menjadi seorang fasilitator ulung yang ana kemudian ia akan mampu menghadapi apa yang  dihadapinya.

Teknik fasilitasi yang baik dan tepat adalah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan permasalahan yang ada, mengikut sertakan masyarakat,  dan membiarkan mereka sendiri yang memecahkan masalahnya.

Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia ajalah negeri yang heterogen, permasalahan dapat lahir dimana-mana seingga fasilitator pun dapat dibutuhkan dimanapun juga. Menyadari hal tersebut, seorang fasilitator harus bersikap professional jika dibutuhkan di temmpat yang minim jaringan, jauh dari jangkauan, dan segala hal lainnya yang tak ia inginkan. Ia juga harus mampu menggunakan teknik fasilitasi pda masyarakat yang heterogen dengan tepat (tepat guna).
0 komentar

Kepercayaan Desa Kasuran, Perjuangan Pendiri Pondok Waria di Notoyudan dan Pemberdayaan di Desa Wisata Sidoakur

“Kepercayaan Desa Kasuran, Perjuangan Pendiri Pondok Waria di Notoyudan dan Pemberdayaan di Desa Wisata Sidoakur”

     Tugas pengganti UTS yang kami pilih adalah berkunjung ke beberapa lokasi. Mulanya saya ingin pergi sendiri, tetpi lebih seru jika dilakukan bersama maka saya pun melakukannya bersama beberapa rekan. Kami memilih beberapa tempat ini karena rekomendasi teman dan rekomendasi situs google.
Rabu 31 November, sekitar pukul 10 kami meninggalkan kompleks Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kami berjalan ke arah selatan menuju Notoyudan. Di Notoyudan terdapat sebuah pondok pesantren khusus waria. Kami tertarik untuk mengunjungi tempat itu karena permasalahan ini (waria) tidak pernah dibicarakan di kelas. Beruntung kami mengenal situs google sehingga kami dapat mencari-cari tempat yang akan kami jadikan bahan analisis, namun saat itu kami kewalahan karena mondar mandir, bertanya sana sini karena kurang mengenal tempat tersebut. Sayang sekali, sesampainya di pondok tersebut tidak ada orang yang membukakan pintu yang tertutup rapat itu. Rupanya, berdasarkan informasi dari tetangganya, pemilik pondok tersebut sedang pergi ke kalimantan selama 10 hari. Tentu terbesit rasa putus asa pada siri kami semua. Lalu kami beranjak pada lokasi selanjutnya yang berjarak cukup jauh.
     Desa Kasuran. Itu yang menjadi alternatif lainnya. Sama seperti kasus pertama, kami buta arah dan pepatah “malu bertanya sesat di jalan” berlaku pada kami saat itu. Lelah melanda karena terik matahari sangat menusuk kulit-kulit ini. Sekitar pukul 14, kami menemukan lokasi kasur barat, sayangnya ibu dukuh desa tersebut tidak sedang dirumah. Rasa putus asa semakin berat untuk dipikul, menyerah, pulang dan menggantinya dengan meresume teori saja. Tapi masih ada satu tempat yang belum kami kunjungi, Kasuran timur... dan kami berharap dengan sangat agar perjalanan dari pagi tidak sia-sia. Meskipun ibu dukuh tidak ada, kami berusaha agar perjalanan ini tak nampak sia-sia, kami bertanya tentang desa Kasuran pada seorang nenek. Nenek terseebut menceritakan bahwasannya memang beliau tidur tidak dengan kasur karena sudah terbiasa dengan keadaan rakyat kecil dan kehidupan apa adanya, tidur dimana saja pun bisa, sehingga beliau tidak tidur di kasur.
Alhamdulillah. Bapak dukuh dapat kami temui sehingga dapat berbagi informasi dengan kami. Rupanya sudah banyak orang yang bertanya tentang desa Kasuran dan kami merupakan yang ke-14.
     Dahulu, pada zaman kerajaan majapahit, sunan kalijaga pernah jalan-jalan ke desa tersebut, lalu ingin menunaikan kewajiban sholat namun sayangnya tidak ada air, lalu ia menemukan sebuah pohon beringin, mematahkan rantingnya dan menancapkannya di tanah lalu keluarlah air pada tanah di dekat pohon beringin tersebut. Dan hingga sekarang air tersebut masih mengalir. Kemudian, beberapa tahun kemudian terjadi perang melawan belanda dan gara-gara pohon tersebut pula para belanda meninggal. Upanya di desa tersebut ada pihak yang tidaksuka dan suka pada pangeran diponegoro, terutama tokoh besar pada waktu itu yakni Nyai Kasur dan Kyai kasur. Keduanya bertengkar dan berpisah di timur dan di barat. Penduduknya pun juga seperti itu. Hingga sekarang pun masih seperti itu. Hinga kemudian terjadi beberapa keanehan (1) ada orang yang sakit terus menerus tanpa diketahui penyakitnya dan penyebabnya dan selalu melihat ular di tembok, padahal jika ada orang lain disana, tidak ada apa-apa. Lalu didapatkan bahwa orang tersebut tidur di kasur. Setelah membuang kasurnya, maka orang tersebut kembali sehat seperti sedia kala. Kasur yang dimaksud disini adalah kasur dengan bahan randu/kapuk. Berkali-kali orang mengalaminya dan diperingatkan. Sehingga pada desa tersebut tidak tidur dengan kasur melainkan dengan spons, atau tidak menggunakan apa-apa. (2) antara Kasuran timur dan barat menjadi pasangan suami istri, lalu keduanya meninggal. Maka antara keduanya kini tidak berani menikah karena perihal tersebut.
     Atas pemberitahuan bapak dukuh tersebut, hal  itu memang sudah banyak di buktikan. Tapi ini adalah takhayul sehingga masalah kepercayaan adalah pilihan pribadi, namun memercayai hal ghoib adalah pasti karena takhayul berbeda dengan hal ghoib.
Mata air tersebut kini masih ada dan dimanfaatkan warga sekitar. Rencananya kelak akan dibangun taman wisata air dan sebuah monumen di desa Kasuran timur tersebut.
     Sekitar pukul 16, kami selesai dan bergegas pulang ke rumah masing-masing.
Karena kami kurang puas dengan hasil sebelumnya, kami mencoba untuk melakukannya lagi. Pada hari selanjutnya, ahad, 11 november pukul 8, tidak seperti yang di rencanakan yakni pukul 7.30. Pagi ini adalah pagi yang mendung.. kami khawatir akan turun hujan sehingga pada mulanya, niat kami terkikis. Alhamdulillah Allah mendukung rencana kami jadi hari ini tidak hujan sehingga kami bisa melakukan tugas analisis.
     Pertama tama, kami kembali mengunjungi pondok pesantren khusus waria “Senin Kamis” yang berlokasi di Notoyudan GT II/1294, RT 85/ RW 24, Yogyakarta, lokasinya mudah di jangkau karena dekat dengan pnggir jalan... namun kesusahan untuk parkir karena jalan masuknya berupa turunan. Nampak depan suasana sangat sepi... tidak seperti bayangan pondok pesantren biasanya yang banyak sekali santri sehingga ramai karena mereka. Kami pun ragu untuk masuk... namun pintu terbuka lebar... maka kami pun mencoba mengetukpintu ...toktoktok... assalamu’alaikum... wa’alaikum salam.. mlebet mbak.. suaranya memang terdengar khas suara waria... tidak ngebass seperti suara lelaki dan tidak seperti suara perempuan ya seperti itulah... mulanya aku berpikir jika waria itu, mengerikan, berlebihan, terlalu kemayu...yaah... seperti yang di presentasikan di televisi... tapi kali itu, kami bertemu ibu waria yang ramah, kalem, biasa... jauh sekali dari bayangan sehingga berpikir dua kali, nggak semuanya waria kayak gitu kok... yang di tampilkan di tv terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kesan negatif.
     Kasihan... itu kesan pertamaku bertemu ibu waria itu... beliau sendirian dan beliau sedang sakit... saat kami masuk, beliau kesusahan untuk duduk karena mulanya berbaring. Kami pun merasa tidak enak hati. Lalu kami pun melakukan sedikit wawancara, minta izin mengambil foto lalu berpamitan. Dan berikut dibawah ini adalah hasil dari wawancara yang kami dapatkan.
     Pondok pesantren ini berdiri sejak 2008 lalu. Kegiatan dilakukan setiap ahad malam dan rabu malam. Yang menggagas pondok pesantern ini adalah ibu maryani, seorang waria kelahiran Yogyakarta. Beliau berjuang sendiri untuk ponpes ini, meskipun kepengurusanpun telah dibentuk, namun kenyataannya itu hanya formalitas, tapi lebih dari formalitas, hanya saja mereka bergerak karena ada kegiatan dan kegiatan tersebut ada karena ibu maryani. Empat tahun lamanya ibu maryani berjuang sendirian dengan motivasi kuat ingin bekerja untuk dunia dan akhirat beliau bisa bertahan hingga sekarang. Memang itu merupakan hal yang hebat, ponpes ini sudah kerap kali mengisi layar kaca kita dan mendapatkan berbagai macam penghargaan. Empat tahun, masih dapat dikatakan umur yang masih muda. Rumah yang di jadikan ponpes tersebut juga adalah rumah sewaan yang mana jika ingin tetap disitu, haruslah memperpanjang masa sewa. Sehingga lagi-lagi berbicara tentang uang. Memang kebanyakan dari waria, seperti yang beliau tuturkan, mereka hanya berpikir tentang uang, uang dan uang. Untuk menghidupi mereka... tentunya. Agar mereka dapat bertahan hidup. Namun dari hasil wawancara kami ini, kami masih merasa kurang karena masih ada hal yang mengganjal... bagaimana hubungan mereka dengan keluarga inti mereka? Karena, sepertinya mereka tidak bersama keluarga mereka lagi...
     Santri berasal dari Yogyakarta, surabaya dan kota lainnya. Di Yogyakarta bekerja dan di ponpes ini adalah berusaha untuk menyeimbangkan mereka dengan ibadah-ibadahnya. Memang ponpes ini hanya sekedar untuk berkumpulnya para waria, yang muslim pastinya tidak tersedia kamar-kamar untuk tidur layaknya pondok pesantren lainnya karena tidak mungkin ibu maryani menampung mereka dan mengurusnya sendirian. Sehingga kebanyakan dari mereka mengontrak atau ngekost di kota gede, dekat gereja danlainnya. Pekerjaan yang mereka lakukan diantaranya mengamen, kerja malam, kerja di salon. Membuat saya berpikir lagi bahwa, tidak ada dari mereka yang bekerja secara formal seperti di kantor, menjadi pegawai.. berwira usaha.. semacam itu.. entah belum ada izin dari pemerintah, mereka yang tidak memenuhi kriteria ataupun mereka yang tidak mau.
     Karena perjuangan ibu Maryani yang sendirian, kini beliau merasa kelelahan. Agenda kedepan, akan ada perkumpulan waria se-indonesia yang akan dilakukan dijogja, sehingga memerlukan izin dari sri sultan. Beberapa orang juga telah mendukung untuk melaksanakan agenda ini. Pada acara inilah yang akan menentukan apakah ponpes ini akan berlanjut ataupun tidak.
Kunjungan kami selanjutnya mengarah ke barat. Karena kami merasa bahwa sudah sering meng-expose selatan (Bantul) kini, kami mencoba meng-expose barat (Godean). Setelah beberapa hari yang lalu bertanya di tempat banyak orang sering bertanya, kami bertanya tentang desa unik di Yogyakarta, maka salah satu tempat yang disarankan adalah desa jetak. Karena desa tersebut addalah desa wisata, ada pengolahan tentang kelingkungan, peternakan dan lainnya selain karena hal itu, salah seorang dari kami memiliki teman yang ber mukim di desa tersebut.
   Saat kami berjalan ke sana, piriran pertama saya, tempat tersebut sepertirumah makan, gubug resto.. semacam itu karena ada gazebo di atas air dimana tempat tersebut banyak orangnya dan juga morotnua. Tapi ternyata hal tersebut adalah sebuah acara. Mulanya kami tampak seperti orang kesasar, mau masuk ragu-ragu, takut salah, belum berani, dan berbagai macam pikiran negatif lainnya. Tapi kami langsung di sapa oleh seorang lelaki berambut putih dengan tinggi hampir sama sepertiku dengan ramah. “silahkan masuk mbak... ikut acara itu kan?” sekiranya itu yang ditanyakan. Kami serentak menjawab tidak, karena kami hanya ingin mengetahui tentang desa wisata di desa jetak. ya, benar, kami tidak salah memarkirkan motor. Tempat tersebut memang desa wisata, pria teersebutmalah mencceritakan tentang desa wisata itu. Rupanya beliau adalah ketuanya, dan acararamai-ramai di gazebo tersebut adalah pertemuan orang-orang se-DIY yang membahas tentang sanitasi. Maka, dibawalah kami mengelilingi lokasi itu.
     Jetak II yang berlokasi di desa Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta mulanya memiliki sanitasi yang buruk, warga mencuci, mandi pribadi atau memandikan hewan di kalen-kalen dan juga permasalahan sampah rumah tangga yang tidak terkendali. Pada tahun 2009, desa ini mengikuti lomba yang diadakan pihak unilever dan syukurnya menang dalam kategori “best of the best kepadatan rendah”. Semenjak saat itu, mulailah pembangunan gedung untuk pengelolaan sampah, penanaman TOGA, MCK plus, pengolahan pulup kandang, gardu pandang, gazebo dan lainnya. Tempat tersebut dibangun pada tanah yang merupakan kas desa dimana dulu digunakan sebagai kandang sapi.
Desa wisata disini menyajikan berbagai hal sepeti basis kelingkungan,  perkebunan, perikanan dan peternakan. Pada sektor perikanan, desa ini memiliki kolam ikan yang sangat luas dan berisi berbagai macam ikan sehingga dapat digunakan sebagai lokasi pemancingan. Dalam hal peternakan, ternak sapi dan kambing diberi pakan gedebok karena memanfaatkan limbah dari pohon pisang dan juga dapat memberikan manfaat lainnya. Pada pengolahan sampah. Sedangkan dalam hal kelingkungan, disini disediakan bank sampah yang kemudian sampahnya dikelola dan dijadikan kerajinan dan dapat dijualkembali. Pada sektor perkebunan yang lebih ke tanaman obat keluarga, disini sudah berhasil mengolahnya kembali dan menjualnya untuk dijadikan buah tangan yakni kunir, temulawak, jahe, dikeringkan, dijadikan serbuk sehingga dapat diminum dimanapun yang diinginkan (asal ada air). Desa wisata ini juga dapat dijadikan sarana outbond, pelatihan, pertemuan, dan masih banyak lainnya. Banyak yang sudah berkunjung seperti timor leste, jakarta, dan lainnya. Untuk menjamu tamu, disini  juga disediakan home stay. Sedangkan untuk menambah fasilitas kenyamanan turis, para pengurusnya juga pernah dilatih masalah perjamuan ataupun penyajian makanan dari beberapa hotel Yogyakarta.
     Dalam pengembangan masyarakat tentu memerlukan proses dan waktu yang tidak sebentar, begitu pula yang dialami pada desa jetak II ini. Penggagas dari desa wisata ini adalah dukuhnya sendiri yang sekaliigus menjadi ketuanya, beliau bernama Jayuri. Untuk  menjadikan warganya mau berubah seperti sekarang ini merupakan hal yang sulit dan harus dilakukan secara telaten. Sampai sekarang pun masih terus berjalan karena masih ada warga yang buang air besar di kalen, meremehkan program kewisataan desa, dan lain sebagainya. Memang banyak pengunjung ataupun wisatawan yang memberikan apresiasi pada desa wisata ini, namun dari pihak warganya malah belum banyak yang mengapresiasi dan masih berpikiran negatif. Sehingga ini adalah perjuangan keras dan besar dari pengurusnya yang ada.
     Yang saya dapat simpulkan disini, masih di lingkup DIY saja masyarakatnya sudah banyak dan beragam baik dari segi kepercayaan akan mitos, waria yang mementingkan uang namun juga berusaha untuk tabungan akhirat namun ia hanya berjuang sendiri, dan desa yang telah berkembang menjadi desa wisata dengan berbagai apresiasi dari luar berkar kegigiha ketua dan pengurusnya. Sehingga bila pada lingkup yang lebih luas lagi seluas Indonesia, akan lebih banyak lagi cerita dan persoalan yang ada.
     Demikianlah beberapa hal yang telah kami lakukan dan dapat saya ceritakan atau laporkan dalam tulisan ini.
Sabtu, 27 Oktober 2012 0 komentar

Ekspresi anak-anak di dalam Prameks

Kereta Prameks



suasana bergegas menaiki prameks karena akan segera berangkat



anak kecil yang berusaha bertahan selama perjalanan solo-jogja



terkena sinar matahari, anak lelaki itu berusaha membuang kejenuhan dengan melihat keluar saat pintu terbuka



pintu tetap terbuka meskipun tidak ada penumpang yang naik lagi 



anak yang berusaha bertahan selama perjalanan



kelelahan selama perjalanan solo-jogja



mencoba menghibur dengan melihat keluar jendela



tetap eksis saat tertangkap kamera meskipun di dalam kereta


oleh: Hanifah Hikmawati
mahasiswa fakultas dakwah, jurusan Pengembangan Masyarakat islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2011

0 komentar

Berkunjung ke Pasar Grabag

ini laporan perjalananku ke pasar, di pasar grabag..
pada kamis, 25 oktober 2012 lalu fafa izin kuliah dan pergi bersama tim SoPas Grabag mengunjungi pasar grabag, purworejo yang menjadi salah satu pasar percontohan indonesia yang ada di JaTeng. tim SoPas (Sekolah Pasar) berusaha memberdayakan para pedagang pasar agar dapat berjualan dengan ramah, dapat menata dagangannya dengan baik sehingga konsumen nyaman berkunjung, para pedagan glokal pun meraih keuntungan.
inilah beberapa foto yang fafa dapatkan saat mengunjungi pasar tersebut...
pasar yang telah dikategorikan

gambar toko yang tutup 

salah satu pitu masuk asar grabag

pengolahan sampah mandiri di pasar grabag

pengesahan
     fafa ikut disana karena ada kelas dengan materi "pengelolaan aset". Pada kesempatan pertama ini, fafa mendapatkan kesan yang berbeda dengan kelas yang ada di pasar kranggan.. dan juga kelas kuliah ataupun kelas di bangku sekolah.
     Sebelum kelas dimulai, nampak dua buah meja berjajar lengkap dengan kursinya telah tersedia di depan. Saat jam menunjukkan pukul 11:00 WIB, panitia mengumandangkan bahwasannya kelas akan segera dimulai. Tidak segan-segan, peserta yang datang tidak hanya satu atau dua orang tetapi berbondong-bondong datang mengisi absensi untuk menghadiri kelas dan bergegas duduk pada tikar yang telah disediakan. Lebih kurang lima tikar yang dihamparkan langsung terisi penuh oleh ibu-ibu pedagang, sisanya duduk tidak jauh dari tikar yang telah disediakan.
     Pada materi pengelolaan keuangan ini disampaikan melalui sebuah drama tentang dua ibu pedagang  yang bersahabat, seorang yang mengkuti sekolah pasar yang dipernkan oleh mbak lily  dan seorang yang tidak mengikuti sekolah pasar yang diperankan oleh mbak khilda. Singkat cerita, saat berdagang dihari-hari biasa, keduanya tak memiliki kesulitan yang berarti, namun kesulitan terjadi ketika musim paceklik berkepanjangan tiba. Mbak lily mengalami kondisi keuangan yang lancar, karena sebagian uang yang dihasilkan ditabung pada sebuah celengan. sedangkan mbak khilda, sama sekali tidak menabung bahkan terus kulakan sehingga barang menumpuk hingga hampir kadaluarsa karena menjual makanan dan langsung membelanjakan uangnya untuk membeli banyak sekali hape sehingga saat musim paceklik tak kunjung usai, mbak khilda mengalami kesulitan keuangan. Melihat sahabatnya yang kesulitan, karena tidak memiliki stok uang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, membayar spp ataupun mengikuti kondangan, mbak lily rela mengorbankan celengannya untuk membantu membayar keperluan sekolah anaknya atau perihal lainnya. Pelajaran yang dibalut dengan drama tersebut berakhir dengan tepuk tangan yang meriah, saat pertunjukan drama berlangsung, peserta nampak antusias untuk menyimak bahkan sesekali mengomentari atau ikut terlibat dalam adegan tertentu. Kelas pun usai setelah ada diskusi dengan peserta dan ditambahi sedikit oleh pak Awan.
     Sayang fafa saat itu menjadi observer, sehingga tidak sempat mengambil gambar suasana kelas yang terjadi. Fafa hanya sempat mengambil gambar yang sekirnya membuat tertarik untuk sekedar dokumentasi untuk membandingkan dengan pasar-pasar yang lain ataupun unik untuk sekedar menjepretnya.
     Seselesainya, kami beristirahat sejenak, lalu pergi menuju sebuah warung makan untuk sekedar menuruti permintaan perut yang keroncongan sekaligus melakukan evaluasi. Perut yang telah terisi membuat kami segera melanjutkan perjalana pulang ke jogja.

Buat tim SoPas.. semangat 45!!  ^o^9
Perubahan memang membutuhkan waktu yang lama dan bertahap.

Rabu, 25 Januari 2012 0 komentar

Dakwah Bil Lisan Semakin Mudah

oleh: Hanifah Hikmawati

Dakwah memiliki arti “mengajak pada kebajikan”. Tentunya manusia lah yang mengajak pada kebajikan serta yang diajak menuju kebajikan. Dalam menjadikan manusia menjadi baik tersebut tentunya ada sebuah prroses yang memiliki beberapa metode. Metode-metode tersebut adalah dakwah bil hal, dakwah bil lisan,
Di sini, saya akan memaparkan tentang metode dakwah bil lisan. Dakwah bil lisan adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh karakteristik bicara seseorang da’i atau Mubaligh pada waktu aktivitas dakwah[1]. Dalam buku lain, dakwah bil lisan diartikan sebagai tata cara pengutaraan dan penyampaian dakwah dimana berdakwah lebih berorientasi pada berceramah, pidato, tatap muka dan sebagainya[2]
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa dakwah bil lisan adalah metode dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i dengan menggunakan lisannya pada saat aktivitas dakwah melalui bicara yang biasanya dilakukkan dengan ceramah, pidato, khutbah, dan lain lain.
Pada tahap awal kebudayaan manusia kegiatan membaca dan menulis belum ada. Maka dari itu, dakwah dilakukan dengan metode dakwah bil lisan. Mereka mengajarkan dan menjelaskan pada masyarakat tentang prinsip-prinsip kebenaran. Lalu hal-hal yang telah diajarkan tersebut diamalkan dan disampaikan pula pada generasi-generasi berikutnya sebagai tradisi hingga suatu ketika karena suatu hal tertentu, maka prinsip-prinsip tersebut terlupakan sehingga tidak dilanjutkan.
Seiring perkembangan zaman, metode dakwah semakin banyak dan semakin beragam apalagi disertai dengan munculnya alat-alat elektronik. Namun hal tersebut tidak membuat dakwah bil lisan berhenti karena setiap manusia pasti dikaruniai lisan oleh Allah SWT. Beberapa hal yang termasuk dakwah bil lisan:[3]
1.      Qaulan ma’rufan
Yaitu dengan berbicara dalam pergaulan sehari-hari yang disertai misi agama, yaitu agama Allah, agama Islam, seperti menyebarluaskan salam, mengawali pekerjaan dengan membaca basmalah, mengakhiri pekerjaan dengan membaca hamdalah, dan sebagainya.

2.      Mudzakarah
Yaitu mengingatkan orang lain jika berbuat salah, baik dalam beribadah maupun dalam perbuatan.
3.      Nasehatuddin
Yaitu memberi nasehat kepada orang yang sedang dilanda masalah kehidupan agar mampu melaksanakan agamanya dengan baik, seperti bimbingan penyuluhan agama yang kini sudah berkembang di radio-radio dan sebagainya.
4.      Majelis Ta’lim
Seperti pembahasan bab-bab dengan mengunakan buku atau kitab dan disertai dengan dialog tanya jawab.
5.      Penyajian Umum
Yaitu menyaji materi dakwah di depan umum. Seperti ceramah atau khutbah, isi dari materi dakwah tidak terlalu banyak, tetapi menarik perhatian pengunjung. Cara seperti ini termasuk cara yang efektif dan efisien untuk dilakukan bagi seorang da’i.
6.      Mujadalah
Argumentasi yaitu dakwah dilakukan dengan cara berdebat disertai alasan-alasan, diakhiri dengan kesepakatan bersama dan menarik suatu kesimpulan.
Dakwah bil lisan dapat dilakukan dengan banyak hal, bahkan dari hal kecil seperti mengucap salam, membaca basmallah dan lainnya. Sebenarnya dakwah bil lisan itu mudah dengan demikian diharapkan para umat muslim dapat mengaplikasikan dakwah bil lisan sebagai bagian dari kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari dan lebih senang untuk berdakwah kepada semua orang.


[1]Asmuni Syukir, Dasar-Dasar dan Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas,1983), hlm. 104.
[2]Husein segaf, Pedoman Pembinaan Dakwah Bil Hal, (Jakarta: Ditjen Bimas urusan Haji, 1988), hlm. 8.
[3]Mohjamal dalam artikel onlinenya Metode Dakwah, 21 Februari 2010 dengan alamat http://zonta.blogdetik.com/2010/02/21/metode-dakwah/ diakses pada 7.12.11

0 komentar

Ibu Pengertian=Keluarga Harmonis

Keluarga yang harmonis adalah dambaan semua orang. Dalam sebuah keluarga setiap anggotanya  pasti memiliki masalah karena Tuhan menciptakan manusia untuk memecahkan teka-tekiNya. Dalam memecahkan masalah tersebut manusia tidak dapat mengerjakannya seorang diri. Ia membutuhkan orang lain, minimal seorang manusia yang  berfungsi sebagai orang yang memecahkan masalah ataupun contoh tauladan bagi manusia yang bermasalah  dalam memecahkan masalahnya. Dengan adanya manusia lain tersebut masalah yang dihadapi oleh manusia yang bermasalah minimal akan berkurang namun bisa juga terpecahkan. Masalah tidak dapat langsung diselesaikan karena membutuhkan proses. Ibarat  manusia adalah lubang pengalir air hujan yang tersumbat. Jika lubang tidak tersumbat, air akan melewatinya dengan lancar. Namun ketika lubang  itu tersumbat oleh sampah atau benda lainnya, air tidak akan dapat melewati lubang yang mengakibatkan banjir. Untuk menghilangkan sampah ataupun benda yang menyumbat lubang itu tentunya diperlukan pihak lain seperti manusia agar lubang dapat berfungsi lagi dengan baik.
Dalam sebuah keluarga yang rata-rata terdiri atas ayah, ibu, anak, ketiganya merupakan sebuah kesatuan yang saling mendukung dan berkaitan. Seperti analogi diatas, ketika seorang anak memiliki masalah, tempat yang paling dekat dan awal dari sebuah media sosialisasi adalah sebuah keluarga. Karena kegiatan anak hanyalah sekolah, bermain dan berkumpul dengan keluarga. Berkumpul dengan keluarga adalah waktu yang paling banyak diperoleh anak. Sehingga ketika seorang anak memiliki masalah, tempat yang sangat banyak waktunya adalah dalam keluarga. Disana anak dibantu oleh seorang ibu ataupun ayah yang paling sering dijumpai semasa hidupnya. Apabila dalam sebuah keluarga tersebut jarang brtemu atau bertatap muka, rasa percaya anak pada keluarga pun semakin tipis. Ia justru merasa aman dan nyaman  berada diluar lingkungan keluarga karena itu tampak menyenangkan keakrabannya.
Sosok ibu menjadi penting dalam kasus serperti ini karena ikatan batin yang kuat terhadap anak. Tentunya ibu harus memperhatikan anaknya lebih dibandingkan pekerjaannya yang lain karena anak adalah investasi masa depan. Jika ibu tidak dekat dengan anak dan anak tidak mendapatkan perhatian yang lebih dari seorang ibu, ia akan mencari tempat paling nyaman menurutnya. Karena hal itulah maka kasus seperti anak jarang pulang ke rumah hanya untuk bermain di rumah teman, bermain game sepanjang waktu hingga kabur dari rumah sangat sering terjadi. Bahkan ketika anak memiliki masalah ia cenderung mengungkapkan pada kawannya terlebih dahulu dibanding dengan sang ibu. Sehingga sosok ibu menjadi kurang penting, bahkan tidak penting bagi anak. Padahal ibulah yang melahirkannya, merawat, menafkahi, memberikan segalanya.
Pada zaman yang modern seperti ini, ibu cenderung berlomba-lomba menjadi wanita karir dan menyerahkan anak pada pembantu. Padahal pembantunya tersebut memiliki anak yang perlu di urus dan semua menjadi kacau. Ibu yang baik akan memperhatiikan anaknya dengan sangat, mengajaknya bercerita dan berusaha mencari jalan agar dapat memperoleh informasi anaknya dengan cara yang baik, benar dan menyenangkan. Sehingga selain anak yang dimengerti, ibupun akan dimengerti oleh anak dan keluarga pun akan harmonis, tidak mengenal kata “broken home” dan jangan salahkan anak jika ia menjadi sangat nakal atau brutal. Renungkanlah jika hal tersebut terjadi. Penyebab utamanya adalah kurangnya perhatian keluarga dengan cara dari hati ke hati yang akan menimbulkan sikap saling mengerti. Mengertilah, maka kau akan dimengerti seperti pepatah barang siapa menanam kebajikan maka ia akan menuai kebajikan pula.
Oleh: Hanifah Hikmawati, pengamat keluarga, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
 
;